Anti Fraud Bank

Anti Fraud Bank adalah training untuk mencegah kecurangan suatu tindakan atau perbuatan yang dengan maksud disengaja menggunakan sumber daya organisasi/perusahaan secara tidak wajar untuk memeroleh keuntungan pribadi

training anti fraud bank

Dasar Fraud

  1. Pengertian fraud
  2. Contoh kasus fraud
  3. Undang-undang anti fraud
  4. Prinsip anti fraud di bank
  5. Teknologi anti fraud
  1. Fraud atau kecurangan adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dengan maksud disengaja menggunakan sumber daya organisasi/perusahaan secara tidak wajar  untuk memeroleh keuntungan pribadi sehingga  merugikan pihak organisasi/perusahaan yang  bersangkutan atau pihak lain. Dalam industri Perbankan,  Fraud dapat di artikan sebagai tidandakan sengaja  melanggar ketentuan internal meliputi (1) Kebijakan, (2)  Sistem dan (3) Prosedur yang berpotensi merugikan bank  baik material maupun moril.
  2. Bank Indonesia (BI) berupaya melakukan pencegahan fraud dengan mensyaratkan perbakan melakukan penerapan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik  (Good Corporate Governance/GCG). GCG menjadi acuan  di dalam beberapa kebijakan BI seperti pembatasan  kepemilikan saham pengendali, transparansi informasi  suku bunga dasar kredit, dll.

Fraud di Bidang Kredit

  • Aktivitas lainnya yang rawan fraud adalah perkreditan, yakni memberikan kredit fiktif atau agunan fiktif, antara lain dengan memanfaatkan berkas kredit yang lunas. Kemudian, aktivitas  accounting. Unit accounting melakukan perubahan parameter  bunga sehingga biaya dana meningkat dan dipindahkan ke  rekening tabungan yang bersangkutan.

Fraud di Bidang Operation

  • Dalam operasional perbankan, beberapa aktifitas yang diidentifikasikan rawan fraud, antara lain aktivitas pendanaan. Dalam hal ini, pegawai bank menarik dana dari rekening nasabah  dengan memanfaatkan kepercayaan nasabah. Pejabat bank dan  petugas customer service menerima titipan penyetoran deposito  (door to door) dan diterbitkan bilyet deposito, namun tercatat  dalam pembukuan bank. Uang setoran digunakan untuk  kepentingan pribadi. Fraud lain dilakukan dengan menyetujui  pencairan deposito prime customer tanpa didiukung dengan  bilyet asli. Contoh kasus Citibank – Melinda Dee, dan Bank Mega –  PT. Elnusa.

Fraud di Bidang Teknologi dan Informasi

  • Penggandaan kartu kredit yang menggunakan teknologi marak digunakan. Penggunaan teknologi chip masih dalam proses masa transisi sehingga masih rentan terhadap pencurian informasi. Kasus pencurian data nasabah Bank Mandiri di  merchant “body shop” menyebabkan nasabah dirugikan sebesar  Rp.7,5Miliar. Pencurian data pada saat swipe menyebabkan data  di duplikasi dan digunakan untuk bertransaksi di luar negeri  (Amerika dan Meksiko).
  • Dari laporan di atas Jumlah kasus fraud actual kartu kredit di Januari 2013 yang tercatat sebanyak 1.752 kasus dengan kerugian mencapai Rp.3,41Miliar. Jumlah kasus ini meningkat sebesar 13%  dengan kerugian 38% apabila dibandingkan dengan periode  sebelumnya di Desember 2012.
  • Sementara untuk kartu debet periode Januari 2013, tercatat 927 kaaua dengan nilai kerugian mencapai Rp.502juta. Jumlah kasus dan nilai kerugian mengalami kenaikan masings sebesar 18,54%  dan 2.886% dibandingkan dengan periode Desember 2012.
  • Untuk uang elektronik dan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang tidak ada kasus fraud yang dilaporkan.

Latar Belakang Fraud

Mengapa Fraud Terjadi?

Pada umumnya fraud terjadi disebabkan terjadi secara bersama, yaitu:

  • Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud
  • Peluang untuk melakuakn fraud
  • Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud.

Adapun motivasi fraud disebabkan adanya :

  • Oportunity akibat lemahnya pengendalian internal organisasi,
  • Kesempatan bagi seseorang/kelompok
  • Pressure karena masalah keuangan pribadi, berjudi, narkoba, berhutang
  • Rationalisasi pelaku fraud yang yakini bahwa tindakannya bukan merupakan suatu kecurangan tetapi merupakan haknya, karena telah berjasa untuk organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula  kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena merasa  rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima  sanksi atas tindakan fraud tersebut.

Gejala Fraud

  • Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan  tersebut, adapun gejala tersebut adalah:
  • Gejala kecurangan pada manajemen: moral dan motivasi karyawan rendah; departemen akuntansi kekurangan staf; tingkat komplain yang tinggi terhadap  organisasi; penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat.
  • Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai: pengeluaran tanpa dokumen pendukung; pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal;  penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen; penggantian mutu barang.

Kasus Fraud

Kasus Fraud di Dunia (1)

  • Pembobolan kantor kas BRI Tamini Square sebesar Rp.29Miliar yang melibatkan pihak internal bank. Modusnya membuka rekening atas nama tersangka lain kemudian mentrasfer ke  rekening lain.
  • Pelaku pihak internal Bank BII Januari 2011 dengan pemberian kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif sebesar Rp.3,6Miliar.
  • Pelaku juga pihak internal bank Mandiri yang mencairkan deposito nasabah dengan memalsukan tanda tangan senilai Rp.18Miliar
  • Pembobolan dana nasabah Bank Jateng Syariah Surakarta sebesar Rp.6 Miliar oleh Kepala Cabang Bank dengan menggunakan tanda tangan palsu.
  • Kasus pembobolan dana escrow account milik Elnusa di Bank Mega – Jababeka sebesar Rp.111 Miliar yang dilatarbelakangi oleh kerjasama dengan pihak intern untuk memalsukan akta dan  tanda tangan pada blanko pencairan deposito dan dipindahkan ke  deposit on call “palsu” atas nama Elnusa. Setelah jatuh tempo  uang tersebut dialrikan ke rekening PT. Discovery dan PT. Harvest  dan dana tersebut digunakan untuk bisnis investasi.

Kasus Fraud di Dunia (2)

  • Kasus pembobolan dana nasabah Citibank-Jakarta sebesar Rp.44Miliar yang dilakukan oleh karyawannya dengan mentransfer ke rekening pribadi atau kerabat.
  • Pembobolan bank terbesar di Swiss, Union Bank of Switzerland (UBS) oleh pialang investasi Kweke Adoboli senilai USD.2Miliar.
  • Bank terbesar di Prancis Societe Genarale rugi sebesar USD.6,8Miliar yang dibobol oleh karyawannya sendiri “Jerome Kerviel”
  • Kebangkrutan Barings Bank, Inggris disebabkan pembobolan oleh karyawannya sendiri Nick Leeson sebesar USD.1,3Miliar di tahun 1995.
  • Tiga bankir Swis Michael Berlinka, Urs Frei (Wegelin & Co Bank, Swiss) dan Roger Keller melakukan kejahatan pajak yang melibatkan nasabah Amerika Serikat di UBS Bank di Swiss. UBS Bank di Swiss membayar  denda sebesar 780 juta dollar AS kepada Pemerintah AS atas tuduhan  penggelapan pajak, dan menyerahkan identitas dari sejumlah  nasabahnya kepada kejaksaan AS.
  • Bank Tertua Swiss Bank Wegilen akhirnya mengakui telah menyembunyikan dana sebesar USD.1,2M dari dinas pajak AS., Internal Revenue Service (IRS). Bank tersebut juga memutuskan untuk berhenti  beroperasi disebabkan pihak otoritas AS menginginkan pengungkapan  bank-bank lainnya di Swiss yang juga melakukan praktek penggelapan  yang sama seperti mereka.

Kasus Fraud

  • Kebijakan sistem rekrutment
  • Kebijakan rotasi
  • Kebijakan dan prosedur sanksi (equal treatment)
  • Kebijakan reward
  • Kebijakan dan prosedur remunerasi
  • Kebijakan dan prosedur know your employee
  • Kebijakan dan mekanisme whistleblower

Pengendalian

  • 1 Internal Control
  • 2 Pemisahan fungsi
  • 3 Dual Control
  • 4 Dual Custody
  1. User ID dan Password Kuat
  2. Tidak sering berganti perangkat untuk masuk ke akun  bank
  3. Mewaspadai aplikasi phising di perangkat
  4. Rajin mengecek mutasi rekening
  5. Memberikan sistem limit & approval untuk transaksi  transfer

Digital Forensic untuk Menyelesaikan Fraud

“Penggunaan metode yang diturunkan secara ilmiah dan  terbukti ke arah pelestarian, pengumpulan, validasi,  identifikasi, analisis, interpretasi, dokumentasi, dan  penyajian bukti digital yang berasal dari sumber digital  untuk tujuan memfasilitasi atau melanjutkan rekonstruksi  peristiwa yang ditemukan sebagai tindak pidana, atau  membantu mengantisipasi tindakan tidak sah yang  terbukti mengganggu operasi yang direncanakan atau  yang seharusnya dijalankan. ”

(2001). Digital Forensic Research Workshop (DFRWS)

  • Forensic Examination: menguji hasil rekaman data  dan temuan digital lainnya
  • Forensic Analysis: menganalisa setiap kejadian yang  terekam hingga detil terkecil
  • Have a role like “playing puzzle”: merekonstruksi data  hingga mendapat gambaran besar berpola
  • Verification : melakukan verifikasi hasil analisa  kepada pihak berwenang dan lembaga tempat kejadian  perkara
  • Dalam dakwaan yang dibacakan, Jaksa membeberkan modus Malinda dalam menguras isi tabungan nasabah. Dia disebut telah melakukan 117 transaksi ilegal terkait  pemindahan isi rekening nasabah.
  • Transaksi itu terdiri dari 64 transaksi dalam rupiah dengan nilai Rp 27.369.065.650 dan 53 transaksi dalam dolar AS senilai US$ 2.082.427. Jika ditotal, uang  sebanyak Rp 46,1 miliar telah dikeruk Malinda dari  puluhan nasabahnya.
  • Atas tindakan itu, Malinda dituntut 13 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.
  • Modus yang digunakan Malinda dalam mengeruk isi tabungan nasabah seolah berlangsung normal. Dia meminta tandatangan sang nasabah dalam formulir  transfer yang masih kosong atau formulir itu  ditandatanganinya sendiri.
  • Tak hanya itu, dia juga mengisi formulir dengan data-data tak sah alias palsu. Data itu terdiri dari nama nasabah pengirim, penerima, nominal uang hingga isi pesan.  Semua diisi oleh Malinda sehingga seakan nasabah itu  yang melakukan transkasi.
  • Setelah data dinyatakan lengkap, formulir transfer itu lantas diserahkan ke bagian teller Citibank untuk diproses transaksinya. Usai transfer sukses dilakukan, Malinda  menikmati hasil kejahatannya untuk keperluan pribadi. Tak  hanya itu, sebagai dananya juga dikirim ke rekening  adiknya Visca Lovitasari dan rekening suami sirinya,  Andhika Gumilang.

Dalam kasus Melinda Dee, red flags secara umum apa yang terdeteksi ?

Berdasarkan pada perilaku umum red flags yang telah dibahas kasus Melinda Dee dapat dikategorikan ke dalam skema Asset Misappropriation pada bagian perubahan perilaku, perubahan gaya hidup, dan masalah karakter.

Dalam kasus Melinda Dee, red flags khusus apa yang terdeteksi ?

Berdasarkan pada perilaku khusus red flags, kasus Melinda Dee dapat dikategorikan ke dalam skema Asset Misappropriation dan coruption. Yang mana dalam skema asset misappropriation pada bagian check tampering, cash larceny. Dan  dalam skema financial statement pada bagian inadeguate disclosures. Serta dalam  skema corruption pada bagian conflicts of interest dan bribery.

Bagaimana cara menanggulangi fraud yang telah terjadi dan mencegah fraud

sebelum terjadi ? (khusus dalam kasus Melinda Dee)

Cara mencegah fraud : Pihak internal perusahaan seperti auditor internal diharapkan dapat bekerja optimal, dalam proses audit jika adanya temuan-temuan yang tidak material, perlu dimasukan ke dalam catatan, bukan diabaikan, karena  hal ini bisa jadi merupakan suatu temuan yang ternyata dapat mengerucut ke  masalah ke yang lebih besar, seperti teori gunung es. Hal tersebut berlaku juga  untuk auditor eksternal. dan pihak eksternal lainnya ialah nasabah yang harus kritis  dan hati-hati dalam segala hal, terutama segala sesuatu yang menyangkut uang atau  materi.

Cara menanggulangi fraud : jika telah terjadi fraud, maka hal pertama yang dilakukan adalah mencari bukti lalu melaporkan ke pihak berwajib.

Segera Daftarkan diri Kamu di Cakrawala Edu, Dapatkan segudang Ilmu pengetahuan dan pengalamanmu di Sini